MAKALAH MOTIF SOSIAL
A. Pengertiaan Motif
Motif
adalah dorongan yang sudah terikat pada suatu tujuan .Misalnya, apabila
seseorang merasa lapar, itu berarti kita membutuhkan atau menginginkan makanan.
Motif menunjuk hubungan sistematik antara suatu respon dengan
keadaan dorongan tertentu. Apabila dorongan dasar bersifat bawaan, maka motif
itu hasil proses belajar.
Ada
beberapa definisi tentang motif:
1. Gerungan (1975)
Motif
itu merupakan suatu pengertian yang melengkapi semua penggerak alasan-alasan
atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia
berbuat sesuatu.
2. Lindzey, Hall dan Thompson (1975)
Motif
adalah sesuatu yang menimbulkan tingkah laku.
3. Atkinson (1958)
Motif
sebagai sesuatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk
menuju tujuan tertentu, tujuan ini dapat berupa prestasi. Afiliasi maupun
kekuasaan.
4. Sri mulyani Martaniah (1982)
Motif
adalah suatu konstruksi yang potensial dan laten, yang dibentuk oleh pengalaman
– pengalaman, yang secara relatif dapat bertahan meskipun kemungkinan berubah
masih ada dan berfungsi mengerakan serta mengarahkan perilaku ke
tujuan tertentu.
Gadner
Lindzey, calvin S.Halldan Ricard F.Thompson dalam bukunya pyichology (1975,
p.339 ) mengklasifikasikan motif kedalam dua hal yaitu:
1. Drives (needs)
Drive
adalah yang dorongan untuk bertindak. Drives yang merupakan proses organik
internal disebut drives primer atau drives yang tidak dipelajari. Misalnya:
lapar dan haus. Drives yang lain diperoleh melalui belajar. Misalnya:
persaingan.
2. Incentives
Incentives
adalah benda atau situasi (keadaan) yang berbeda di dalam lingkungan sekitar
kita yang merangsang tingkah laku.
Misalnya: mungkin
kita tidak lapar, tetapi melihat mie goreng terhidang di atas meja merangsang
nafsu makan kita. Drives yang dipelajari memenuhi kebutuhan Untuk kelangsungan
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
B. Pengertian Motif Sosial
1. Londgren (19730) motif sosial adalah motif yang
dipelajari melalui kontak orang lain dan bahwa lingkungan individu
memegang peranan yang penting.
2. Barkowitz (1969) motif sosial adalah motif yang
mendasari aktivitas individu yang mereaksi terhadap orang lain.
3. Max Crimon dan Messick (1976) Mengatakan bahwa
seseorang menunjukan motif sosial, jika dalam membuat
pilihan memperhitungkan akibat bagi orang lain.
4. Heckhausen (1980) motif sosial adalah motif yang
menunjukan bahwa tujuan yang ingin di capai mempunyai interaksi
dengan orang lain.
Motif
timbul karena adanya kebutuhan/need. Kebutuhan kebutuhan dapat diartikan
sebagai:
a. Satu kekurangan universal di kalangan umat
manusia dan musnah bila kekurangan itu tidak tercukupi.
b. Sebuah kekurangan yang dapat dipenuhi secara wajar
dengan berbagai benda lain apabila ada benda khusus yang diingini tidak dapat
diperoleh.
Wood
Worth dan Marqius membedakan motif atas :
a. Motif yang tergantung pada keadaan dalam
jasmani.
b. Motif ini merupakan kebutuhan organik. Misalnya:
makan minum dsb.
c. Motif yang tergantung hubungan individu
dengan lingkungan
Motif ini di bedakan
menjadi :
§ Emergency motive/ motif darurat ini adalah motif yang membutuhkan
tindakan segera karena keadaan sekitarnya menuntut demikian. Misalnya: motif
untuk melepaskan diri dari bahaya, melindungi matanya dan sebagainya.
§ Objektif motive/ motif objektif. Motif yang berhubungan langsung
dengan lingkungan baik berupa individu maupun benda. Misalnya: penghargaan,
memiliki mobil, memiliki rumah bagus dan sebagainya.
Teevan
dan Smith (1964) menggolongkan motif atau dasar perkembangannya menjadi dua
kelompok yaitu:
a. Motif Primer, kebutuhan motive (need)
Perilaku
adalah motif yang timbulnya berdasarkan proses kimiawi fisiologik kimiawi
fisiologik dan diperoleh dengan tidak dipelajari. Contohnya: haus dan lapar.
b. Motif sekunder
Motif
yang timbulnya tidak secara langsung berdasarkan proses kimiawi fisiologik dan
umumnya diperoleh dari proses belajar baik melaui pengalaman maupun lingkungan.
McClellaand
mengemukakan bahwa motif sekunder disebut juga dengan motif sosial yang terdiri
atas :
· Motif beprestasi
· Motif berafiliasi
· Motif berkuasa
C. Macam-Macam Motif Sosial
1. Motif Tunggal/Motif Bergabung
2. Motif Biogenetis
3. Motif Sosiogenetis
4. Motif Teogenetis
5. Motif Sosial menurut McClelland
Manusia berinteraksi
dengan dunia sosialnya dalam tiga bentuk motif yaitu:
1) Motif berprestasi dimana ciri-ciri dari tipe orang
dengan motif sosial seperti ini:
· Mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik
(beranggapan bahwa berprestasi lebih baik adalah suatu hal yang penting).
· Berusaha melakukan sesuatu dengan cara yang baru dan
kreatif.
· Berpikiran maju ke depan (inovatif).
2) Motif afiliasi, ciri-cirinya:
· Senang berada di tengah keramaian dan sangat menikmati
persahabatan.
· Senang bergaul dengan orang lain, senang berbicara di
telepon.
· Lebih mementingkan aspek-aspek interpersonal dari
pekerjaannya daripada aspek-aspek yang menyangkut tugas dalam pekerjaannya.
· Berusaha mendapatkan persetujuan orang lain.
· Melakukan tugas lebih baik saat bekerja dalam team.
· Selalu memiliki keinginan untuk mengadakan,
memperbaiki atau memelihara hubungan yang erat, hangat dan bersahabat dengan
orang lain.
3) Motif berkuasa, ciri-cirinya:
· Selalu ingin memiliki pengaruh terhadap orang lain.
· Aktif dalam menjalankan kebijakan suatu organisasi
yang diikuti.
· Peka terhadap struktur pengaruh interpersonal dari
suatu kelompok atau organisasi.
· Selalu risau dengan reputasi, prestasi atau kedudukan
orang lain.
· Selalu berusaha membuat orang lain terkesan.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motif-Motif Sosial
Ada
4 sumber perkembangan motif sosial yaitu:
1) Interaksi ibu dan anak
2) Interaksi anak dengan seluruh keluarga
3) Interaksi anak dengan masyarakat luas
4) Pendidikan formal
Faktor-faktor
yang meliputi motif sosial meliputi cara-cara mengasuh anak (yang meliputi
Interaksi ibu dan anak, interaksi anak dengan seluruh keluarga, interaksi anak
dengan masyarakat luas, pendidikan formal) dan lingkungan kebudayaan.
a. Peran Motif Sosial
Berperan
penting dalam pembentukam sosial. Terbentuknya kelompok sosial adalah karena
bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan kegiatan
bersama lebih mudah dapat dicapai daripada atas usaha diri sendiri. Jadi,
dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebab utama terbentuknya
kelompok sosial itu.
b. Beberapa Cara Memotivasi Orang Lain
1. Memotivasi dengan kekerasan/motivating by force
Contohnya dalam
Angkatan bersenjata dimana seorang pemimpin akan mengancam para serdadu dengan
suatu hukuman, jika mereka tidak atau kurang disiplin.
2. Memotivasi dengan bujukan/motivating by enticement
Bila orang lain itu
mengerjakan sesuatu bujukan atau hadiah itu dapat berupa:
· Untuk buruh/pekerja akan diberikan tambahan upah.
· Untuk para pelajar akan memberikan nilai yang baik.
· Dapat juga berupa status.
3. Memotivasi dengan identifikasi/motivating by
identivicatio/Ego Involvent
Dalam hal ini mereka
berbuat sesuatu dengan suatu rasa percaya diri sendiri bahwa apa yang dilakukan
itu adalah untuk mencapai tujuan tertentu, ada keinginan dari dalam.
Contohnya seorang
murid belajar bukan karena bujukan guru, tetapi murid belajar karena memang
mereka ingin memperoleh prestasi belajar yang lebih baik.
PRASANGKA SOSIAL
Prasangka
merupakan evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri pada
keanggotaan dimana seorang tersebut menjadi anggotanya, prasangka merupakan
evaluasi negative terhadap outgroup.[1]Prasangka sosial merupakan sikap perasaan
orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan , ras, atau kebudayaan
yang berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu. Prasangka sosial
yang terdiri dari attitude-attitude social yang negative
terhadap golongan lain, dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan
manusia lain tadi.
Awal
mulanya prasangka hanya berupa sikap-sikap perasaan negative tetapi lambat laun
akan dinyatakan dalam bentuk tindakan yang diskriminatif terhadap orang yang
diprasangkai itu tanpa alasan yang objektif pada orang yang dikenai
tindakan-tindakan yang diskriminatif.[2]
Contohnya
seperti di Amerika Serikat, di sana terdapat prasangka social terhadap golongan
Negro atau golongan kulit hitam terutama di Amerika bagian selatan[3]. Dari prasangka social tersebut keduanya
sama-sama melahirkan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap masing-masing
pihak yang diprasangkai. Bahwasanya tindakan-tindakan diskriminatif yang
berdasarkan prasangka social akan merugikan masyarakat Negara itu
sendiri, Sebab perkembangan potensi-potensi manusia masyarakat
tersebut akan sangat diperhambat.
B. Sebab-Sebab Timbulnya Prasangka
Ada beberapa
faktor yang menyebabkan prasangka:
1. Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam
Dalam berusaha ,
seseorang mengalami kegagalan atau kelemahan, dan penyebab dari kegagalan itu
tidak dicari pada dirinya sendiri tetapi pada orang lain. Orang lain inilah
yang dijadikan kambing hitam sebagai sebab kegagalannya[4].
2. Orang berprasangka, karena memang ia sudah
dipersiapkan didalam lingkungannya atau kelompoknya untuk berprasangka.
Misalkan: seorang anak Amerika (kulit putih) dilahirkan didalam keluarga kulit
putih. Didalam keluarga itu sudah dianut atau ditegakkan suatu norma tertentu
yaitu bahwa orang Negro itu pemalas, bodoh, tidak tau kesusilaan dan kotor.
Anggapan semacam
ini sudah tertanam pada diri anak sejak kecil, sehingga anak akan mengikuti
pula anggapan semacam ini. Berdasarkan ini maka tidak mustahil bila terjadi
seorang anak kulit putih telah berprasangka terhadap orang Negro, meskipun anak
tersebut belum pernah bergaul dengan orang Negro. Hal semacam itu tentu saja
merugikan perkembangan anak
3. Prasangka timbul karena adanya perbedaan, perbedaan
disini bisa meliputi :
a.
perbedaan fisik
b.
Perbedaan lingkungan
c.
Perbedaan kekayaan
d.
Perbedaan status sosial
e.
Perbedaan kepercayaan
Dan
masih banyak lagi perbedaan-perbedaan lainnya.
4. Prasangka timbul karena kesan yang menyakitkan atau
pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya: bangsa yang dijajah dengan bangsa
penjajah. Kesan dari bangsa yang dijajah adalah bahwa penjajah itu kejam,
mengharuskan kerja paksa, merampas kebebasan dan sebagainya. Dengan kesan atau
pengalaman semacam ini terjajah akan berprasangka terhadap penjajah.
5. Prasangka timbul karena adanya anggapan yang sudah
menjadi pendapat umum atau kebiasaan didalam lingkungan tertentu. Misalnya,
orang slalu berprasangka terhadap status ibu tiri atau anak tiri.
C. Teori-teori tentang prasangka
1. Teori belajar
sosial
Teori
belajar sosial merupakan salah satu teori dalam belajar, teori ini dikemukakan
oleh bandura yang berpendapat bahwa belajar itu terjadi melalui model atau
contoh. Prasangka seperti halnya sikap, merupakan hal yang terbentuk melalui
proses belajar.[5]
Attitude-attitude
yang dimiliki manusia tidaklah dibawa sejak ia dilahirkan. Tetapi bermacam
attitude itu dipelajari dan terbentuk pada manusia selama perkembangannya.
Awalnya anak-anak kecil tidak mempunyai attude-attitude, kemudian mereka
memperoehnya untuk yang pertama melalui primary group yaitu orang tua dan
keluarganya. Demikian pula dengan prasangka social, Prasangka social juga tidak
dibawa manusia sejak manusia dilahirkan. Prasangka social juga terbentuk selama
perkembangan manusia, baik dari didikan atau pun dengan cara identifikasi
dengan orang lain yang sudah berprasangka.[6]
Teori
ini juga mengemukakan bahwa anak mempelajari sikap negatif terhadap suatu
kelompok kelompok sosial tertentu sering kali karena mereka dikenalkan dengan
pandangan-pandangan semacam itu oleh lingkungannya. Orang tua, guru,
saudara dan media masa sangat berpengaruh bagi perkembangan proses belajar
sosial seorang anak dalam pembentukan prasangka.[7]
Teori
belajar social memandang prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari
dengan cara yang sama, seperti bila orang
mempelajari nilai-nilai social yang lain; prasangka disebarluaskan
dari orang yang satu ke orang yang lain sebagai bagian dari sejumlah
norma. Prasangka merupakan norma dalam budaya atau sub budaya
seseorang. Prasangka diperoleh seorang anak melalui sosialisasi. Anak
mempelajari sikap berprasangka untuk dapat diterima oleh orang lain.
Terakhir, penyebar luasan dan pengungkapan prasangka yang
terus-menerus akan memperkuat peranannya sebagai norma budaya ( Ashmore &
Delboca, 1980)[8]
2. Teori Motivasional
Teori
ini memandang prasangka sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan individu
atau elompok untuk mencapai kesejahteraan (satisfy). Teori ini mencakup
beberapa teori yaitu;
a. Pendekatan psikodinamika
Teori
ini menganalisis prasangka sebagai suatu usaha untuk mengatasi tekanan
motivasi yang ada dalam diri individu yang bersangkutan. Jadi teori
ini menekankan pada dinamika dari pribadi individu yang bersangkutan (specific
individual personality).[9]
b. Konflik Kelompok Realitas (Realistic group
conflict)
Konflik
kelompok realitas. Teoeri ini menyatakan bahwa dua kelompok bersaing merebutkan
kelompok yang langka, mereka akan saling mengancam, dan akhirnya menimbulkan
permusuhan diantara mereka sehingga menciptakan nilai negative yang bersifat
timbal balik.[10]
Konflik
antar kelompok akan terjadi apabila kelompok-kelompok tersebut dalam keadaan
berkompetisi. Ini menyebabkan adanya permusuhan antara kedua
kelompok tersebut yang kemudian bermuara pada adanya saling berprasangka satu
dengan yang lain, saling memberikan evalauasi yang negatif. Dengan demikian,
prasangka tidak dapat dihindarkan sebagai akibat adanya konflik yang nyata
antara kelompok yang satu dengan yang lain.[11]
c. Kekurangan Relatif (relative deprivation)
Teori
ini berkaitan dengan ketidakpuasan yang tidak hanya timbul dari kekurangan
objektif , tetapi juga dari perasaan kurang secara subjektif yang relative
lebih besar dibandingkan orang lain atau kelompok lain.[12]
Dalam
konflik kelompok yang nyata, prasangka timbul sebagai respons terhadap frustasi
yang riil dalam kehidupan antara kelompok satu dengan yang lain. Tetapi
kadang-kadang orang mempersepsi diri sendiri atau mereka mengalami kerugian
secara relatif terhadap pihak lain, walaupun dalam kenyataanya tidak demikian.
Persepsi ini dapat membawa permusuhan antara kelompok yang satu dengan yang
lain, dan sebagai akibatnya yaitu dapat menimbulkan prasangka.
D. Usaha mengurangi prasangka sosial
Usah-usaha
mengurangi prasangka sosial antara golongan itu kiranya jelas harus di mulai
pada didikan anak-anak di rumah dan di sekolah oleh orang tua dan gurunya.[13] jelasnya bahwa orasangka sosial itu
sebenarnya adalah karena salah sangka, miss informasi, miss interprestasi. Oleh
karena itu usah untuk mengurangi atau menghilangkan prasangka tetap di jalankan
, di kembangkan dan di usahakan perbaikannya. Usaha mengurangi prasangka ini di
bedakan atas atas dua usaha .
1. Usaha preventif: ini berupa usaha jangan sampai orang
atau kelompok terkena prasangaka. Menciptakan situasi atau susasana yang
tentram, damai, jauh dari rasa permusahan. Melainkan dalam arti lapang dada
dalam bergaul dengan sessama manusia meskipun ada perbedaan, perbedaan bukan
berarti pertentangan , memperpendek jarak sosial sehingga tidak sempat timbul
prasangka. Usaha ini sebaiknya harus di lakukan oleh orang tua pada anak, guru
terhadap anak didiknya, masyarkat, media dan sebagainya.
2. Usaha curatif. Usaha ini menyembuhkan orang yang sudah
terkena prasangka, usaha disini berupa usaha menyadarkan. Prasangka adalah hal
yang selalu merugikan tidak ada hal yang bersifat positif bagi kehidupan bersama
, justru adanya prasangka itu pihak luar/pihak ketiga melahan dapat menarik
kuntungan dengan jalan memperalat atau menimbulkan suasana panas dan kacau dari
golongan yang diprasangkai demi keuntungan pihak ketiga.
E. Prasangka, Propaganda, Desas-desus dan Stereotip.
Prasangka
PrasangkaBerasal
dari kata pra = sebelum; sangka = dugaan,pendapat yang didasarkan
atas perasaan hati, syak, kesangsian, keraguan.
Prasangka
: anggapan dan pendapat yang kurang menyenangkan atau penilaian negatif yang tidak
rasional, yang ditujukan pada individu atau suatu kelompok tertentu (yang
menjadi objek prasangka), sebelum mengetahui, menyaksikan, menyelidiki
objek-objek prasangka tersebut.
Prasangka
juga dapat dikatakan sebagai attitude-attitude sosial negatif, yang ditujukan
pada individu atau golongan lain dan hal ini mempengaruhi tingkah laku golongan
individu yang berprasangka tersebut.
Prasangka
mulanya hanya merupakan sikap-sikap negatif, tapi lama kelamaan akan
memunculkan tindakan-tindakan yang menghambat, merugikan bahkan mengancam
kehidupan pribadi golongan tertentu’
Propaganda
Propaganda
adalah alat meyakinkan seseorang terhadap suatu pandangan/citacita seseorang.
Bermacam-macam propaganda antara lain:
·
Progresif,
yaitu mengganti ideologi lama dengan ideologi baru.
·
Reaksioner,
yaitu mencegah perkembangan sosial dan timbulnya ideologi baru.
·
Konservatif,
yaitu memepertahankan ideologi.
Desas-desus
Desas
–desus adalah suatu gejala sosial psikologis yang menarik perhatian bagi ahli
psikologi, karena : 1. desas – desus itu terjadi dimana saja, didalam tiap –
tiap masyarakat 2. desas – desus mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan
masyarakat, dan orang dalam masyarakat.
jadi,
desas – desus adalah pemberitahuan lisan/tulisan dari orang perorang pada orang
lain. Macam-macamnya bisa desas-desus yang merembes, berkoar, dan bertahan.
Stereotip
Stereotip
merupakan gambaran atau tanggapan tertentu seseorang terhadap individu/kelompok
yang diprasangkai.
Menurut Johnson &
Johnson stereotipe dilestarikan dan di kukuhkan dalam empat cara,:
1.
Stereotipe mempengaruhi apa yang kita rasakan dan kita ingat berkenaan dengan
tin-dakan orang-orang dari kelompok lain.
2.
Stereotipe membentuk penyederhanaan gambaran secara berlebihan pada anggota
kelompok lain. Individu cenderung untuk begitu saja menyamakan perilaku
individu-individu kelompok lain sebagi tipikal sama.
3.
Stereotipe dapat menimbulkan pengkambing hitaman.
KEPRIBADIAN SOSIAL
Defenisi kepribadian
menurut para ahli dianataranya sebagai berikut:
· Koentjaraningrat
Menurutnya
kepribadian adalah susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan
tingkah laku tiap manusia.
· Roucek dan warren
Mereka mendefenisikan
kepribadian sebagai organisasi faktor biologis,psikologis, dan sosiologis yang
mendasari prilaku seorang individu.
· Theodore M.Newcomb
Kepribadian sebagai
organisasi sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseoarang sebagai
latar belakang prilaku.
· Robbins, (1993)
Kepribadian adalah
cara dengan mana seseorang bereaksi dan berinteraksi dengan orang
lain.
Jadi
kepribadian adalah keseluruhan prilaku seorang individu dengan sistem
kecendrungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
Dari
sejumlah teori tentang kepribadian, dan tidak ada suatu teori yang dianggap
paling baik atau paling benar. Untuk kondisi tertentu suatu teori mungkin lebih
baik dalam menjelaskan perilaku atau meramalkan respon seseorang.
2.2
SUSUNAN KEPRIBADIAN DAN CONTOHNYA
Susunan
kepribadian adalah unsur-unsur akal dan jiwa yang menjadi dasar perbedaan
prilaku tiap-tiap individu. Susunan kepribadian meliputi :
a. Pengetahuan
Pengetahuan
yang dimiliki seorang individu diperoloeh melalui fantasi, pemahaman, dan
konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal
yang berbeda dalam lingkungan hidupnya.Contohnya: pengetahuan yang dimiliki
disimpan dalam otak dan secara bertahap diwujudkan dalam bentuk prilaku.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dapat menentukan prilaku orang
tersebut, karena pengetahuan yang dimiliki indivodu berbeda-beda maka prilaku
dan kepribadian yang dimiliki menjadi berbeda-beda pula.
b. Perasaan
Perasaan
yaitu kondisi fisik/ keadaan dalam kesadaran diri individu yang menghasilkan
penilaian positif ataupun negatif terhadap sesuatu. Brntuk penilaina
disasarkan pada pengetahuan yang dimiliki seseorang, sehingga perasaan akan
selalu bersifat sbjektif yang dikarenakan adanya undur penilaian tersebut,
sedangkan penilaian individu satu dengan individu lainnya bisa saja berbeda-beda.
Contohnya: perasaan yang ada dalam diri manusia akan mempengaruhi
kepribadiannya, dan karena perasaan tiap-tiap individu berbeda maka kepribadian
tiap-tiap individu pun menjadi berbeda-beda pula.
c. Dorongan
naluri
Dorongan
naluri adalah kemauan yang menjadi naluri pada setiap individu. Secara umum
terdapat bermacam-macam dorongan nluri pada diri manusia. Contohnya: dorongan
untuk mempertahankan hidup, bergaul dan berinteraksi dangen sesama manusia,
mendapat ksaih sayang dari sesamanya, mencari makan, memenuhi kebutuhan
biologis,keindahan bentuk,gerak, warna, dan suara, berbakti, dan meniru tingkah
laku sesamanya.
2.3 FAKTOR-FAKTOR
PEMBENTUK KEPRIBADIAN
Faktor Biologis
Tidak semua
arakter fisik yang menggambarkan kepribadian seseorang, hal tersebut
dipengaruhi oleh pandangan atau asumisi masyarakat mengenai karakteristik fisik
tersebut. Sebagai contoh adalah adanya asumsi dalam masyarakat bahwa seorang
pria yang berkumis tebal berkepribadian keras dan mudah marah, orang yang
berbibir tipis identik dengan karakteristik suka berbicara (cerewet),dan
sebagainya. Sebenarnya karakteristik fisik tersebut tidak menjamin orang
bersangkutan memiliki kepribadian seperti yang diasumsikan oleh masyarakat,
namun karena adanya apriori yang berkembang dalam masyarakat akibat kondisi
kebudayaan sering kali memberi dampak psikologis tertentu dalam diri seseorang
dan kebudayaan memiliki kepribadian seperti yang diasumsikan oleh orang banyak
tersebut. Sehingga karakteristik fisik dapat pula menjadi faktor pembentuk
perkembangan kepribadian meskipun tidak multak.
Faktor Geografis
Setiap daerah
mempunyai kekayaan alam yang berbeda-beda. Orang-orang yang tinggal di daerah
yang kaya akan sumber daya alam dan menyediakan sumber makanan yang melimpah
cenderung berkepribadian lemah dan malas, namun sebaliknya kondisi geografis
yang tidak bersahabat cendrung menjadikan masyarakatnya berkepribadian keras,
kuat, dan perkerja keras karena hal itu merupakan tuntutan untuk tetap bertahan
hidup.
Faktor Kebudayaan Khusus
Adanya
perbedaan kebudayaan pada setiap masyarakat menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi kepribadian seseorang, meskipun para sosiolog menyarankan agar
tidak terlaly membesar-besarkan persoalan ini.
Faktor Pengalaman Kelompok
Teman dalam suatu
kelompok memberikan peran yang cukup penting dalam pengembangan kepribadian
seseorang yang positif. Hal itu dikarenakan interaksi yang terjalin
antarindividu dalam suatu kelompok cukup memberi dalam pembentukan dan
perkembangan kepribadian seseorang. Terdapat 2 kelompok yang diaanggap
berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang yaitu:
1) Kelompok Acuan (Kelompok Referensi)
Pembentukan
kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola interaksi dengan kelonmpok
acuanya pada tahun-tahun awal pertumbuhannya, yaitu dalam lingkungan keluarga.
Selain keluarga, kelompok acuan lain antaranya adalah teman sebaya, meskipun
peranannya dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian seorang anak akan
berkurang ketika ia mulai hidup secara mandiri. Contoh, seorang anak yang telah
lulus SMA/SMK akan lebih mandiri jika dibandingkan dengan anak yang baru lulus
SD ataupun SMP.
2) Kelompok Majemuk
Kelompok
majemuk menujuk pada realita masyarakat yang lebih kompleks dan beraneka ragam.
Dalam kelompok majemuk seorang anak akan menemukan ada banyak orang dengan
karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Suatu pola hidup yang dianggap
benar oleh sebagian orang bisa jadi dianggap salah oleh sebagian orang yang
lain. Dalam kondisi yang demikian seorang anak harus berusaha keras
mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri apa yang dianggap baik dan
bermanfaat bagi diri dn kepribadian nya sehingga tidak terserat pada arus
perbedaan yang ada dalam kelompok majemuk di mana ia tinggal.
Faktor Pengalaman Unik
Setiap individu pasti
memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda dengan individu yang lain. Hal
tersebut dikarenakan tiap-tiap individu akan mengalami pengalaman hidup yang
berbeda-beda pada masing-masing individu.
2.4 TIPE-TIPE
KEPRIBADIAN
Holland dalam Haryono
(2001) memformulasikan tipe-tipe kepribadian sebagai berikut :
Mereka yang berada
dalam area ini adalah cenderung sebagai orang yang memiliki keengganan social,
agak pemalu, bersikap menyesuaikan diri, materialistic, polos, keras hati,
praktis, suka berterus terang, asli, maskulin dan cenderung atletis, stabil,
tidak ingin menonjolkan diri, sangat hemat, kurang berpandangan luas, dan
kurang mau terlihat.
Mereka yang berada
dalam tipe ini cenderung berhati-hati, kritis, ingin tahu, mandiri,
intelektual, instropektif, introvert, metodik, agak pasif, pesimis, teliti,
rasional, pendiam, menahan diri, dan kurang popular.
Orang-orang yang
masuk dalam tipe ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang
“agak sulit” (complicated), tidak teratur, emosional, tidak materaialistik, idealistic,
imaginative, tidak praktis, impulsive, mandiri, introspektif, intuitif, tidak
menyesuaikan diri dan orisinil/asli.
Mereka yang tergolong
dalam tipe sosial ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang
suka kerjasama, suka menolong, sopan santun (friendly), murah hati, agak
konservatif, idealistic, persuasive, bertanggung jawab, bersifat sosial,
bijaksana, dan penuh pengertian.
Mereka yang masuk
dalam tipe ini cenderung memperlihatkan dirinya sebagai orang yang gigih
mencapai keuntungan, petualang, bersemangat (ambisi), percaya diri, sosial,
suka spekulasi, suka menonjolkan diri, energik, dominan, argumentative dan suka
bicara.
Mereka yang masuk
dalam tipe ini adalah orang-orang yang mudah menyesuaikan diri (comforming),
teliti, dispensif, efisien, kurang fleksibel, pemalu, patuh, sopan santun
teratur dan cenderung rutin, keras hati, praktis, tenang, kurang imajinasi, dan
kurang mengontrol diri.
DAFTAR PUSTAKA
- Buchanan and A. Huczynski. 1977. Organizational
Behavior: Integrated Readings. London: Prentice
- Handoko. Hani T. 2003. Manajemen Edisi 2.
BPFE: Yogyakarta
- Ardana, Komang; Mujiati, Ni Wayan; Ayu Sriathi, Anak Agung.
2009. Perilaku Keorganisasian. Edisi dua. Yogyakarta : Graha Ilmu.
- Davis, Keith & Newstrom, John W. 1996. Perilaku
Dalam Organisasi. Edisi Ketujuh. Jakarta: Erlangga.
Komentar
Posting Komentar